Aku masih tak percaya. Bagimana bisa? Bagaimana bisa cowok seperti itu bisa memporakporandakan sistem di tubuhku yang sedari dulu sudah terpogram rapi? Bagaimana bisa mata ini menjadi begitu sensitif terhadap sosoknya yang samar-samar terlihat dari kejauhan?
Tanpa kusadari sebelah bibirku terangkat membentuk senyum . Ya Tuhan, salah satu makhluk ciptaanmu itu benar-benar berbeda. Benar-benar mampu membuat hari-hariku terasa kacau, rasanya hati dan otak mulai jarang terasa akur.
Otakku kembali bekerja, lalu mencela, merendahkan. Bagaimana bisa dengan mudahnya perasaanku dipermainkan? Bagaimana bisa cowok cuek dan sadis yang jauh dari tipeku itu mampu membuat hatiku berdesir hebat hanya dengan melihat tatapan mata dari sudut kacamatanya. Membuat jantungku berdetak sepuluh kali lebih kencang hanya dengan melihat senyumnya. Dan parahnya bagaimana bisa membuatku secara tak sadar tersenyum hanya karena membayangkan sosoknya. Cih, apa organku ada yang rusak? Apa mataku mulai merabun, atau mungkin hatiku terkena penyakit baru yang belum terdeteksi?
Hati mendebat tak mau kalah. Meyakinkan bahwa selalu berkata jujur. Apa salahnya menyukainya? Toh perasaan juga tak bisa dipaksakan, hati juga tak bisa dibohongi. Bukankah ini normal untuk tertarik pada lawan jenis, ya walaupun pada orang yang dingin dan kaku seperti dia. Bukankah dia mampu menenangkanmu hanya dari ucapan-ucapannya. Bukankah berada di sampingnya mampu membuat merasa nyaman seperti di rumah. Ya, mungkin dia “rumah” ku, menjadi tempat berteduh, tempat yang membuatku merasa aman, serta menjadi hal yang kurindukan ketika berada jauh darinya. Persetan dengan logika.
Ah, entahlah, belum pernah otak dan hati berdebat sehebat ini, kuharap mereka bisa segera berdamai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar