“Sosokmu kembali memasuki fikiranku, lagi. Berhenti, membesar dan tak mau pergi dari otak. Kau memang tak pernah berubah, masih keras kepala, selalu menemukan jalan untuk membuatku merindukanmu. Kamu hebat sayang, masih sama seperti dulu. Beberapa menit lagi sudah sebulan, semoga besok aku tak mengecewakan ketika menemuimu”
Untuk kesekian kalinya kusimpan catatan itu diantara puluhan lainnya, lalu segera kumatikan note book ku. Rasanya sudah tak tahan menahan kantuk. Tapi, doa agar bertemu denganmu dalam mimpi tak lupa selalu kuucap.
Pagi ini dingin sekali, dari cendela kamar kulihat hujan turun deras di luar. Aku ingat kau menyukai hujan, senyumku mengembang. Lihat, dari hal-hal kecil seperti ini kau mampu membuatku tersenyum.
Sepanjang jalan kuputar lagu-lagu favoritmu, lagu ini, hujan ini, sudah cukup menenangkanku. Dan hujanpun reda ketika aku melewati taman yang dulu biasa kita gunakan tuk bertemu, samar-samar kulihat ada pelangi diatas sana. Ah, rasanya semua terlihat menyenangkan hari ini, mungkin mereka merestui pertemuan kita sebentar lagi.
Aku sampai sayang, kuharap aku tak mengecewakanmu. Aku juga tak membawa bunga hari ini, aku masih ingat kau tak begitu menyukainya. Aku melangkah lebih cepat, aku tak sabar, aku tak mau kau menunggu terlalu lama. Aku tak peduli ada beberapa orang yang memandang aneh ketika aku berjalan tergesa-gesa dengan memasang seyum termanis yang aku bisa. Sungguh aku tak mau kau kecewa. Ah, akhirnya sampai, segera kurapikan bajuku ketika tiba di pusaramu.

