Untuk seseorang....
bagaimana kabarmu sekarang? apa kau baik-baik saja? apa kau mengistirahatkan tubuhmu dg cukup? apa kau menjaga jadwal makanmu? apa kau masih sering begadang hingga malam menyergap hanya untuk menonton tim favoritmu bertanding? Apa julukan ‘ maniak game’ yang biasa aku berikan masih melekat hingga sekarang?
ah, maaf, maaf jika aku tergesa-gesa menanyakannya
aku disini baik-baik saja, mungkin kau sudah tak perduli, tapi apa salahnya jika aku memberitahukan kabarku. Tenang saja, aku, akan selalu baik-baik saja jika dari kejauhan aku masih melihat senyum mengembang dari sudut bibirmu
Kau tentu baik-baik saja bukan? Maaf, aku hanya bisa memastikannya dari kejauhan. Tapi aku selalu berusaha menangkap sosokmu, agar sedikit terpuaskan rasa dahagaku atas kabarmu sekarang.
Aku... aku merindukanmu, maaf, kata-kata itu daritadi menunggu, tak sabar untuk dimunculkan disini. Mungkin kau tidak langsung mempercayainya, tapi aku juga tak tahan jika terus-terusan memendamnya. Aku merindukanmu, merindukan sosokmu yang dulu, merindukan saat-saat tertawa bersamamu, merindukan saat-saat kita bertengkar, merindukan suaramu yang hangat menyapa lewat ponselku, merindukan pesan singkatmu yang memenuhi inbox ku,merindukan belaian tanganmu yang lembut megusap rambutku, merindukan candaanmu, merindukan begadang semalaman bersamamu, merindukan pelukanmu yang hangat, merindukan genggaman tanganmu yang menenangkan, merindukan ekspresimu ketika bertemu disekolah, merindukan senyuman kecilmu, merindukan dan aku sangat merindukan tempat favoritku untuk bersandar, ya, bahumu .
singkatnya, disini aku merindukanmu.
Tanda tanya yang sederhana adalah , apakah kau juga merindukan itu semua? Apakah kau juga merindukan sosok ku? Ataukah aku yang terlalu berharap kau menjawabnya dengan kata ‘ iya’
Mungkin aku dulu tak pernah sejujur ini mengatakannya, maaf jika kau tak pernah tau,
Kau tau yang apa yang membuatku berfikir bahwa kau istimewa dibanding yang sebelum- sebelumnya?
Apakah kau mau menebaknya lebih dahulu?
Ah, lebih baik kuberitau saja, kau yang pertama,
Yang pertama membuatku tak kuasa membalas tatapan matamu
Yang pertama membuatku hatiku berdegup kencang ketika melihatmu tak jauh dari tempatku berdiri
Yang pertama membuatku seakan menjadi detective untuk mencari tau semua tentangmu setiap hari
Yang pertam memunculkan senyum di bibirku ketika membaca pesan singkat darimu
Yang pertama membuatku gembira seharian setelah bermimpi indah bersamamu
Yang pertama menjadi nama yang sering kuucap dalam doa setelah keluargaku
Itu kelebihanmu, itu yang membuatku merasa kau spesial, kau berbeda,
Dan itu hanya kurasakan ketika bersamamu. Aneh bukan?
Maaf jika aku hanya mampu mengungkapkan lewat tulisan ini, maaf jika ini terlambat, namun setidaknya kau tau, daripada tidak sama sekali
Sudah dulu ya, rasanya aku sudah menyita banyak waktumu
Terimakasih sudah menyempatkan membaca
dari
Aku yang menyanyangimu
