CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Jumat, 17 Februari 2012

You make me feels like home


Aku masih tak percaya. Bagimana bisa? Bagaimana bisa cowok seperti itu bisa memporakporandakan sistem di tubuhku yang sedari dulu sudah terpogram rapi? Bagaimana bisa mata ini menjadi begitu sensitif terhadap sosoknya yang samar-samar terlihat dari kejauhan?


Tanpa kusadari sebelah bibirku terangkat membentuk senyum . Ya Tuhan, salah satu makhluk ciptaanmu itu benar-benar berbeda. Benar-benar mampu membuat hari-hariku terasa kacau, rasanya hati dan otak mulai jarang terasa akur.


Otakku kembali bekerja, lalu mencela, merendahkan. Bagaimana bisa dengan mudahnya perasaanku dipermainkan?  Bagaimana bisa cowok cuek dan sadis yang jauh dari tipeku itu mampu membuat hatiku berdesir hebat hanya dengan melihat tatapan mata dari sudut kacamatanya. Membuat jantungku berdetak sepuluh kali lebih kencang hanya dengan melihat senyumnya. Dan parahnya bagaimana bisa membuatku secara tak sadar tersenyum hanya karena membayangkan sosoknya. Cih, apa organku ada yang rusak? Apa mataku mulai merabun, atau mungkin hatiku terkena penyakit baru yang belum terdeteksi?


Hati mendebat tak mau kalah. Meyakinkan bahwa selalu berkata jujur. Apa salahnya menyukainya? Toh perasaan juga tak bisa dipaksakan, hati juga tak bisa dibohongi. Bukankah ini normal untuk tertarik pada lawan jenis, ya walaupun pada orang yang dingin dan kaku seperti dia. Bukankah dia mampu menenangkanmu hanya dari ucapan-ucapannya. Bukankah berada di sampingnya mampu membuat merasa nyaman seperti di rumah. Ya, mungkin dia “rumah” ku, menjadi tempat berteduh, tempat yang membuatku merasa aman, serta menjadi hal yang kurindukan ketika berada jauh darinya. Persetan dengan logika.


Ah, entahlah, belum pernah otak dan hati berdebat sehebat ini, kuharap mereka bisa segera berdamai.

Teruntuk...

Cerita di buku ini mengingatkanku tentang sosokmu.

Tentang bagaimana tokoh utamanya dibuat nyaman dengan kata-kata menangkan yang lebih seperti janji dan pasti ditepati. Perasaan nyaman yang mengalir begitu saja, ketika tatapan mata itu memberi arti bahwa akan ada hari esok yang lebih baik lagi. Hampir mirip.

Tentang tatapan mata itu, aku masih menyukainya. Lebih lagi ketika kacamata itu tak lagi menghalangi  tatapan matamu yang tulus menyiratkan kasih sayang, belum tertandingi.  Juga ketika kamu marah, aku bahkan menyukai tatapan mata tajam itu, benar-benar mampu menyudutkanku. Aku menyukai rahangmu yang mengeras ketika kamu merasa geram. Menyukai ketika mendapati tatapan matamu yang diam-diam memperhatikanku. Bau parfum mu yang wangi.  Tingkah manjamu yang meminta perhatian lebih. Puisi-puisi itu. Juga caramu bermain gitar, berkharisma.  Sikap, perhatian, candaan, dan tingkah konyol itu mampu menghilangkan kesan pertamamu yang terlihat angkuh, kaku, dan kasar. Usahamu untuk menyenangkanku itu juga pantas kubanggakan


Belum lagi kecupan lembut di keningku, rasanya seperti ada kehangatan yang mengalir. Dada itu juga lebar dan hangat. Membuatku bebas bergelayut manja. Dan hebatnya bisa membuatku tertidur dengan nyaman setelah kelelahan menangis.


Yang menyenangkan adalah, aku tak perlu menjadi orang lain ketika berada di dekatmu. Hanya perlu menjadi aku, aku seutuhnya.